Lompat ke isi utama

Berita

Mengukuhkan Demokrasi di Usia ke-18, Ketua Bawaslu Bojonegoro Ajak Jajaran Lebih Produktif dan Berintegritas

PIMPINAN

Ketua Bawaslu Kabupaten Bojonegoro, Dr. Handoko Sosro Hadi Wijoyo, S.E., M.M., menyampaikan amanat yang sarat makna pada apel pagi di hadapan jajaran kesekretariatan

Bojonegoro, bojonegoro.bawaslu.go.id - Pagi yang cerah menyelimuti halaman Kantor Bawaslu Kabupaten Bojonegoro saat seluruh jajaran mengikuti apel rutin dengan penuh khidmat. Barisan pegawai tampak rapi, mencerminkan kesiapan dan kedisiplinan dalam mengemban tugas sebagai pengawas demokrasi. Apel pagi kali ini terasa berbeda, tidak hanya sebagai rutinitas, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan penguatan komitmen kelembagaan.

Bertindak sebagai pembina apel, Ketua Bawaslu Kabupaten Bojonegoro, Dr. Handoko Sosro Hadi Wijoyo, S.E., M.M., menyampaikan amanat yang sarat makna. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Subbagian Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa, Septian Eko Santoso, S.H., serta diikuti oleh staf teknis, CPNS, PPPK, hingga staf pendukung di lingkungan Sekretariat Bawaslu Kabupaten Bojonegoro.

Dalam suasana yang hening dan penuh perhatian, Handoko mengawali arahannya dengan mengajak seluruh jajaran untuk sejenak menengok perjalanan demokrasi di Indonesia, sekaligus mengevaluasi peran Bawaslu di dalamnya. Ia menegaskan bahwa Bawaslu bukan sekadar lembaga administratif, melainkan garda terdepan dalam menjaga kualitas demokrasi.

“Refleksi implementasi demokrasi di Indonesia, Bawaslu sebagai penjaga demokrasi sudah sejauh mana berkontribusi dalam menjaga demokrasi. Secara substantif, apa yang dikehendaki oleh demokrasi yaitu liberty, egality, fraternity,” ucapnya, membuka ruang perenungan bagi seluruh peserta apel.

Ia kemudian menjelaskan makna dari ketiga prinsip tersebut dengan gaya dialogis yang lugas namun mendalam.

“Liberty itu kebebasan. Artinya, setiap warga negara punya hak untuk memilih, berpendapat, dan berpartisipasi tanpa tekanan. Di sinilah kita hadir, memastikan tidak ada intimidasi dalam setiap proses demokrasi,” terangnya.

Sejenak ia berhenti, menatap peserta apel yang menyimak dengan saksama, sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Egality bukan sekadar istilah, tetapi sikap yang harus hadir dalam setiap perilaku kita. Dalam konteks kerja kita di Bawaslu, egality berarti memperlakukan setiap orang secara adil, tanpa memandang latar belakang, jabatan, maupun status kepegawaian,” lanjutnya dengan nada tegas.

Kemudian ia menutup penjelasan tersebut dengan penekanan pada nilai persatuan.

“Fraternity adalah persaudaraan. Walaupun berbeda pilihan, kita tetap satu. Kita harus menjaga suasana tetap damai, menjaga persatuan, dan mencegah konflik di tengah masyarakat,” imbuhnya.

Amanat tersebut tidak berhenti pada pemaknaan nilai demokrasi semata. Dalam momen yang sama, Handoko juga menyinggung peringatan Hari Ulang Tahun ke-18 Bawaslu, yang menurutnya menjadi tonggak penting dalam perjalanan lembaga.

Suasana apel kembali terasa lebih reflektif ketika ia menyampaikan hal tersebut.

“Tahun ini Bawaslu memasuki usia ke-18. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk mengukuhkan demokrasi. Kita harus bertanya pada diri kita sendiri, sudah sejauh mana kita berkontribusi secara nyata,” ujarnya.

Menurutnya, usia ke-18 merupakan fase kedewasaan bagi sebuah lembaga. Oleh karena itu, Bawaslu dituntut untuk semakin matang dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya.

“Di usia ini, kita tidak boleh bekerja biasa-biasa saja. Kita harus lebih produktif, lebih progresif, dan lebih inovatif. Jangan hanya menjalankan rutinitas, tetapi ciptakan nilai dari setiap pekerjaan yang kita lakukan,” tegas Handoko.

Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas individu sebagai bagian dari penguatan kelembagaan. Setiap pegawai, menurutnya, memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas kerja Bawaslu secara keseluruhan.

“Setiap dari kita harus terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memberikan kontribusi terbaik. Jangan cepat puas. Kita harus punya semangat untuk berkembang,” katanya.

Tidak hanya itu, Handoko turut mengingatkan pentingnya menjaga integritas sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik. Ia menegaskan bahwa tanpa integritas, seluruh kerja pengawasan akan kehilangan makna.

“Kita harus menjaga marwah lembaga. Integritas adalah harga mati. Ketika kita dipercaya, maka setiap langkah kita akan memiliki kekuatan,” ujarnya dengan penuh penekanan.

Di tengah dinamika tugas pengawasan yang semakin kompleks, ia juga mengajak seluruh jajaran untuk memperkuat kebersamaan dan soliditas internal. Menurutnya, kerja tim menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus saling mendukung, saling menguatkan. Komunikasi harus baik, koordinasi harus kuat. Dengan begitu, produktivitas kita akan meningkat, dan hasil kerja kita juga akan lebih berkualitas,” tambahnya.

Amanat tersebut menjadi pengingat sekaligus penyemangat bagi seluruh jajaran yang hadir. Apel pagi yang semula merupakan rutinitas, berubah menjadi ruang pembelajaran dan penguatan nilai.

Seiring berakhirnya apel, semangat baru tampak terpancar dari wajah para peserta. Momentum HUT ke-18 Bawaslu menjadi energi kolektif untuk terus bergerak maju, memperkuat peran, dan menjaga integritas dalam setiap langkah pengawasan.

Dengan komitmen yang terus diperbarui, Bawaslu Kabupaten Bojonegoro meneguhkan diri sebagai bagian penting dalam mengawal demokrasi yang jujur, adil, dan bermartabat. Bukan hanya sebagai tugas, tetapi sebagai tanggung jawab bersama demi masa depan demokrasi Indonesia.

Penulis dan Foto: Victor Al

Editor: Humas Bawalu Bojonegoro