Hari Buku Nasional, Kordiv SDMO dan Diklat Bawaslu Bojonegoro Ajak Perkuat Budaya Literasi untuk Masa Depan Bangsa
|
Bojonegoro, bojonegoro.bawaslu.go.id - Buku telah lama menjadi jendela pengetahuan yang membuka wawasan manusia terhadap dunia. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, keberadaan buku tetap memiliki peran penting sebagai sumber ilmu pengetahuan, sarana pembelajaran, serta media pembentukan karakter dan peradaban.
Momentum Hari Buku Nasional menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan teknologi, tetapi juga oleh tingkat literasi masyarakatnya. Bangsa yang gemar membaca dan belajar akan memiliki kemampuan lebih besar untuk menghadapi perubahan zaman, menciptakan inovasi, serta membangun kehidupan yang lebih maju dan berdaya saing.
Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional, Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Diklat Bawaslu Kabupaten Bojonegoro, H. Moch. Zaenuri, S.T., menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para pegiat literasi, penulis, guru, akademisi, pustakawan, serta seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam menumbuhkan budaya membaca dan belajar.
“Selamat memperingati Hari Buku Nasional. Semoga momentum ini semakin memperkuat semangat literasi di tengah masyarakat. Buku merupakan sumber pengetahuan yang memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujar Zaenuri.
Menurutnya, buku tidak hanya menyimpan informasi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga merekam perjalanan peradaban manusia dari masa ke masa. Berbagai kemajuan yang dirasakan saat ini lahir dari tradisi membaca, menulis, dan berbagi pengetahuan yang terus berkembang sepanjang sejarah.
Ia menilai bahwa budaya membaca perlu terus ditanamkan sejak dini sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan bangsa. Kebiasaan membaca akan melatih kemampuan berpikir kritis, memperkaya perspektif, serta membantu seseorang dalam memahami berbagai persoalan secara lebih mendalam.
“Setiap halaman buku menyimpan pelajaran yang berharga. Dari buku, kita dapat belajar tentang ilmu pengetahuan, sejarah, kepemimpinan, budaya, hingga nilai-nilai kehidupan. Karena itu, membaca bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan proses membangun kualitas diri secara berkelanjutan,” jelasnya.
Di tengah perkembangan media digital yang semakin pesat, Zaenuri memandang bahwa buku tetap memiliki relevansi yang kuat. Kehadiran teknologi justru harus dimanfaatkan untuk memperluas akses terhadap bahan bacaan dan memperkuat gerakan literasi di berbagai lapisan masyarakat.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi terbatas pada ketersediaan informasi, melainkan bagaimana masyarakat mampu menyaring, memahami, dan memanfaatkan informasi secara bijak. Dalam konteks tersebut, budaya membaca menjadi salah satu kunci penting untuk meningkatkan kemampuan literasi dan membangun masyarakat yang cerdas serta kritis.
“Di era informasi saat ini, kemampuan membaca dan memahami informasi menjadi sangat penting. Literasi membantu masyarakat membedakan informasi yang benar dan tidak benar, sehingga mampu mengambil keputusan yang lebih tepat dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Zaenuri juga menekankan bahwa budaya literasi memiliki keterkaitan erat dengan kualitas demokrasi. Masyarakat yang memiliki tingkat literasi yang baik cenderung lebih aktif, kritis, dan bertanggung jawab dalam kehidupan publik. Mereka mampu memahami isu-isu yang berkembang, menghargai perbedaan pendapat, serta berpartisipasi secara konstruktif dalam proses pembangunan.
Sebagai lembaga yang memiliki tugas mengawasi jalannya demokrasi, Bawaslu juga terus mendorong penguatan literasi masyarakat, termasuk literasi kepemiluan dan demokrasi. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan edukasi, sosialisasi, serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat agar semakin memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
“Literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami lingkungan sekitar dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Semakin tinggi tingkat literasi, semakin besar pula peluang untuk menciptakan masyarakat yang maju dan demokratis,” ungkapnya.
Peringatan Hari Buku Nasional menjadi momentum yang tepat untuk kembali menumbuhkan kecintaan terhadap buku di tengah kehidupan yang semakin dinamis. Membaca tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membuka ruang dialog, memperluas cara pandang, dan membangun karakter yang kuat.
Mengakhiri pesannya, Zaenuri mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadikan membaca sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari.
“Marilah kita jadikan Hari Buku Nasional sebagai pengingat bahwa kemajuan bangsa dimulai dari masyarakat yang gemar belajar. Dengan membaca buku, kita memperluas wawasan, memperkuat pengetahuan, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai ilmu pengetahuan dan menjadikan literasi sebagai bagian dari peradabannya,” pungkasnya.
Penulis dan Foto: Victor
Editor: Humas Bawaslu Bojonegoro