Lompat ke isi utama

Berita

Menunggu Senja Ramadan, Bawaslu Bojonegoro Gaungkan Demokrasi Berakhlak Lewat Ngabuburit Pengawasan

PIMPINAN

Ngabuburit Pengawasan Bawaslu Bojonegoro dengan mengusung tema “Demokrasi Berakhlak: Menyatukan Perbedaan, Mengokohkan Persatuan". M Yazid Mar’i, S.Ag., M.Pd.I., berikan tausiyah demokrasi

Bojonegoro, bojonegoro.bawaslu.go.id - Suasana sore yang teduh di bulan suci Ramadan terasa berbeda di ruang Media Center Bawaslu Kabupaten Bojonegoro, Jumat (6/3/2026). Menjelang waktu berbuka puasa, jajaran pimpinan dan staf berkumpul dalam kegiatan Ngabuburit Pengawasan Bawaslu Bojonegoro dengan mengusung tema “Demokrasi Berakhlak: Menyatukan Perbedaan, Mengokohkan Persatuan.”

Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan dan hikmat tersebut dihadiri oleh seluruh komisioner dan seluruh staf jajaran sekretariat Bawaslu Kabupaten Bojonegoro, Tidak sekadar menunggu waktu berbuka, rangkaian kegiatan ini dimulai dengan pembacaan tahtimul Qur’an dan dilanjutkan dengan tausiyah demokrasi yang mengajak seluruh peserta merefleksikan nilai-nilai spiritual dalam menjalankan tugas pengawasan pemilu.

Kegiatan ini menjadi ruang kebersamaan sekaligus refleksi spiritual bagi keluarga besar Bawaslu Bojonegoro di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah.

Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kabupaten Bojonegoro, Muhammad Muchid, S.Pd.I., M.Sos., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ngabuburit pengawasan ini dilaksanakan sesuai dengan Surat Edaran Bawaslu RI yang memberikan ruang bagi Bawaslu daerah untuk mengemas kegiatan Ramadan sesuai kearifan lokal masing-masing.

“Kegiatan ngabuburit pengawasan ini dilaksanakan sesuai dengan surat edaran dari Bawaslu RI. Bentuk kegiatannya menyesuaikan dengan kearifan lokal di masing-masing daerah. Rangkaian kegiatan ngabuburit pengawasan Bawaslu Bojonegoro, ini kita kemas sekaligus dalam rangka peringatan malam Nuzulul Qur'an. Kegiatan ini kita mulai dengan berbagi takjil kepada masyarakat, dan sore ini Tahtimul Qur'an 30 juz yang kita baca bersama dan dilanjutkan tausiyah atau ngaji demokrasi,” ujar Muchid di hadapan para peserta.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut lahir dari semangat kebersamaan  dan kegiatan ini murni iuran bersama keluarga besar Bawaslu Kabupaten Bojonegoro. "Kita manfaatkan untuk berbagi takjil kepada masyarakat dan mengadakan kegiatan ngabuburit pengawasan seperti hari ini. Ini adalah bentuk kebersamaan sekaligus kepedulian sosial kita,” lanjutnya.

Muchid juga mengajak seluruh peserta untuk memaknai ibadah puasa tidak hanya sebagai ritual menahan lapar dan haus, tetapi juga sebagai latihan pengendalian diri.
“Di bulan puasa ini kita belajar menahan nafsu, menahan godaan lapar dan haus, sekaligus belajar menahan diri dari hal-hal yang tidak baik. Berbagi takjil juga merupakan bentuk kegiatan sosial yang kita lakukan untuk mengikhlaskan sebagian dari penghasilan kita,” tuturnya.

Menurutnya, berbagi tidak selalu harus berupa materi. Ilmu yang kita miliki juga bisa kita bagikan kepada orang lain apapun yang kita miliki bisa kita bagikan dengan ikhlas. "Mudah-mudahan puasa kita tahun ini diberikan kekuatan hingga akhir Ramadan dan dijalankan dengan penuh keikhlasan,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Bawaslu Kabupaten Bojonegoro, Dr. Handoko Sosro Hadi Wijoyo, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta dalam kegiatan tersebut. Ia mengawali sambutannya dengan cerita ringan yang mengundang senyum para hadirin.

Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada penceramah yang telah berkenan hadir untuk memberikan siraman rohani bagi keluarga besar Bawaslu Bojonegoro.
“Terima kasih Pak Yazid Mar’I sudah berkenan rawuh memenuhi undangan kami di Bawaslu Bojonegoro. Kegiatan ngabuburit pengawasan ini memang dilaksanakan sesuai dengan surat edaran dari Bawaslu RI sebagaimana yang tadi disampaikan Pak Muchid,” ungkapnya.

Handoko juga menjelaskan makna istilah “ngabuburit” yang kini akrab di tengah masyarakat.
“Ngabuburit itu sebenarnya budaya dari Tanah Sunda, khususnya Bandung. Biasanya dilakukan menjelang buka puasa. Kalau di daerah kita sering disebut berburu takjil. Namun secara makna, ngabuburit ini adalah kegiatan positif untuk menunggu waktu berbuka,” jelasnya.

Ia bahkan memberikan pemaknaan filosofis terhadap istilah tersebut.
“Saya memaknai ngabuburit ini sebagai momentum membaca. Dalam Islam ada perintah ‘Iqra’ atau membaca. Pada tanggal 17 Ramadan juga ada peristiwa turunnya Al-Qur’an. Maka ngabuburit ini bisa kita jadikan waktu untuk membaca, belajar, dan memperkuat nilai-nilai spiritual,” ujarnya.

Handoko menegaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan rohani para pegawai.
“Kalau jasmani, hampir setiap minggu kita ajak teman-teman olahraga. Tetapi kalau rohani dibiarkan kering tentu tidak baik. Jasmani, rohani, dan ekonomi teman-teman insyaAllah sudah tertata, tinggal rohaninya yang perlu kita isi bersama-sama,” tuturnya.

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah demokrasi yang disampaikan oleh M. Yazid Mar’i, S.Ag., M.Pd.I. Dalam ceramahnya, ia mengaitkan nilai ibadah puasa dengan kesadaran moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, tujuan utama dari ibadah puasa adalah membentuk manusia yang bertakwa.
“Tujuan dari diperintahkannya puasa adalah agar manusia menjadi orang yang bertakwa, menjadi muttaqin. Orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kehidupan kita,” jelasnya.

Ia kemudian mengaitkan nilai ketakwaan dengan peran pengawasan dalam kehidupan demokrasi.
“Kalau semua orang benar-benar bertakwa, sebenarnya tidak perlu ada pengawasan. Karena sekecil apa pun perilaku kita selalu berada dalam pengawasan Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Namun dalam kehidupan berbangsa, sistem pengawasan tetap diperlukan untuk menjaga kepercayaan publik.
“Artinya kita tidak sepenuhnya percaya pada subjek pemilu, baik pelaku maupun pelaksana. Di situlah fungsi pengawasan. Tetapi pengawasan yang paling utama tetaplah pengawasan dari dalam diri kita sendiri,” tambahnya.

Dalam tausiyahnya, Yazid juga mengutip pemikiran Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-14, yang mendefinisikan demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Ia menjelaskan bahwa demokrasi memiliki dua prinsip utama, yakni partisipasi rakyat dalam pemerintahan dan orientasi pada kepentingan rakyat.
"Alat untuk mewujudkan demokrasi itu adalah pemilu, yaitu proses memilih pemimpin yang akan menjalankan pemerintahan,” terangnya.

Yazid juga menyinggung sejarah demokrasi yang telah berkembang sejak masa Yunani kuno.
“Sekitar 500 tahun sebelum masehi di Yunani sudah dikenal istilah ‘demos’ dan ‘kratos’ yang berarti kekuasaan rakyat. Dalam konteks Indonesia, demokrasi kemudian diterjemahkan oleh Bung Karno sebagai alat perjuangan dan revolusi untuk membangun bangsa,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa demokrasi tidak hanya berhenti pada prosedur pemilu, tetapi juga harus melahirkan keadilan dan musyawarah dalam kehidupan bernegara.
“Kalau kita bicara demokrasi yang sejati, maka prinsipnya ada dua: musyawarah dan keadilan. Demokrasi bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi bagaimana keputusan yang diambil benar-benar membawa kemaslahatan bagi rakyat,” tegasnya.

Yazid juga mengingatkan bahwa demokrasi sering kali terlihat indah di permukaan, namun menyimpan berbagai persoalan di dalamnya.
“Demokrasi itu kadang seperti lipstik. Di luar tampak merona dan indah, tetapi di dalamnya bisa saja sedang sakit. Karena itu demokrasi harus selalu dijaga dengan nilai moral dan akhlak,” ungkapnya.

Sebagai seorang pendidik, ia menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam politik praktis, tetapi memiliki tanggung jawab moral untuk mencerdaskan masyarakat.
“Saya ini guru. Saya tidak masuk politik praktis, tetapi saya berkewajiban mencerdaskan masyarakat agar memahami politik dan demokrasi dengan baik,” katanya.

Ia menutup tausiyahnya dengan pesan bahwa demokrasi yang kuat harus dibangun oleh masyarakat yang berakhlak.
“Sekelompok orang dengan segala kemampuan dan pengetahuannya menentukan siapa yang layak menjadi pemimpin. Itulah demokrasi. Tetapi demokrasi yang baik hanya bisa lahir dari masyarakat yang memiliki kesadaran moral dan akhlak yang kuat,” pungkasnya.

Kegiatan ngabuburit pengawasan tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa. Suasana kebersamaan terasa hangat, mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat semangat pengawasan yang berintegritas.

Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kabupaten Bojonegoro berharap nilai-nilai spiritual Ramadan dapat semakin memperkuat komitmen seluruh jajaran dalam menjaga demokrasi yang berintegritas, berkeadilan, dan berakhlak. Sebab pada akhirnya, demokrasi yang kokoh bukan hanya dibangun oleh sistem, tetapi juga oleh manusia-manusia yang memiliki kesadaran moral dan tanggung jawab kepada Tuhan dan bangsa.

Penulis dan Foto: Hana dan Tim

Editor: Humas Bawaslu Bojonegoro