Lompat ke isi utama

Berita

Seminar Kolaborasi di Ngraho, Bawaslu Bojonegoro Tanamkan Semangat Demokrasi pada Gen Z

PIMPINAN

Muhammad Muchid, S.Pd.I., M.Sos., & Lia Andriyani, S.Sos., bersama civitas akademika IAI Al Muhammad Cepu dan mahasiswa dalam seminar demokrasi

Bojonegoro, bojonegoro.bawaslu.go.id – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat pendidikan demokrasi dan pengawasan partisipatif di kalangan generasi muda. Kali ini, Bawaslu Bojonegoro hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Seminar Kolaborasi bertema “Peran dan Tantangan Generasi Muda dalam Demokrasi” yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Al Muhammad Cepu di Pondok Pesantren Pasuran Putu Santri Nurul Hasan, Desa Begodo, Kecamatan Ngraho (9/5).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesantren Pasuran Putu Santri Nurul Hasan KH. Muhammad Abdul Jallal, Pimpinan Pondok Pesantren Moch Khoirul Muslimin. Hadir dari Bawaslu Bojonegoro Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas Muhammad Muchid, S.Pd.I., M.Sos.,serta Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kabupaten Bojonegoro Lia Andriyani, S.Sos.

Dalam sambutannya, Pimpinan Pondok Pesantren Moch Khoirul Muslimin menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar yang mengangkat tema peran generasi muda dalam demokrasi. Menurutnya, tantangan yang dihadapi pemuda saat ini semakin kompleks sehingga diperlukan kesiapan mental, wawasan, dan keberanian untuk menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

“Tantangan pemuda hari ini sangat berat. Rintangan mungkin bisa dipahami, tetapi tantangan perlu dianalisis dan dihadapi bersama. Karena itu, pemuda harus siap menjadi agent of change,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Humas Bawaslu Kabupaten Bojonegoro, Muhammad Muchid, S.Pd.I., M.Sos., hadir sebagai narasumber utama dan menyampaikan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia.

Menurut Muchid, generasi muda memiliki peran strategis dalam menentukan arah demokrasi bangsa melalui penggunaan hak pilih yang bijak dan partisipasi aktif dalam pengawasan Pemilu. Ia menegaskan bahwa suara generasi muda bukan sekadar angka dalam Pemilu, melainkan penentu masa depan bangsa.

“Jangan sampai lima tahun ke depan menyesal karena salah memilih. Penyesalan itu datangnya di belakang, bukan di depan. Dahulu Pemilu memilih partai, sekarang rakyat yang memilih secara langsung. Kedaulatan adalah milik rakyat,” ungkap Muchid di hadapan peserta seminar.

Suasana seminar berlangsung interaktif. Para peserta yang didominasi kalangan mahasiswa dan santri tampak antusias mengikuti pemaparan materi serta aktif berdialog mengenai tantangan demokrasi di era digital. Muchid mengulas sejarah kepemiluan di Indonesia sejak Pemilu 1955 hingga Pemilu 2024 beserta perkembangan jumlah partai politik peserta Pemilu. Penjelasan tersebut disampaikan untuk memberikan pemahaman kepada peserta bahwa demokrasi Indonesia terus berkembang dan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar tetap berjalan sesuai prinsip-prinsip konstitusi.

Selain itu, peserta seminar diberikan pemahaman mengenai asas Pemilu Luber dan Jurdil, prinsip-prinsip Demokrasi Pancasila, serta pentingnya menjaga hak pilih sebagai bagian dari kedaulatan rakyat. Muchid menekankan bahwa hak pilih merupakan hak konstitusional yang harus dijaga dan digunakan secara bertanggung jawab.

Tidak hanya membahas teori demokrasi, Bawaslu Bojonegoro juga mengenalkan pengawasan partisipatif kepada para peserta seminar. Muchid menjelaskan bahwa pengawasan Pemilu bukan hanya tugas penyelenggara, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

“Di Bawaslu Bojonegoro sudah ada kader pengawasan dan kegiatannya telah dipublikasikan melalui media sosial Bawaslu Bojonegoro. Kami terus melakukan sosialisasi ke seluruh kecamatan dan menawarkan pembentukan Kampung Pengawasan. Kami berharap teman-teman organisasi kemahasiswaan, BEM, dan seluruh lapisan masyarakat ikut terlibat aktif dalam mengawasi Pemilu,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Gen Z merupakan kelompok pemilih strategis yang perlu mendapatkan pendidikan politik secara berkelanjutan agar tidak mudah terpengaruh politik uang, politik transaksional, maupun informasi menyesatkan di media sosial. Menurutnya, derasnya arus informasi di era digital harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar generasi muda tidak mudah terprovokasi maupun terjebak dalam polarisasi politik.

“Generasi muda hari ini jangan hanya menjadi penonton demokrasi. Anak muda harus berani terlibat, berani mengawasi, dan berani menyampaikan kebenaran demi menjaga kualitas Pemilu,” tambahnya.

Menurut Muchid, sosialisasi kepemiluan kepada pemilih muda menjadi penting untuk mencegah sikap apatis serta meningkatkan kesadaran politik generasi muda agar mampu menjadi pemilih yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.

Sebagai penutup, kegiatan seminar tersebut diharapkan mampu menjadi ruang kolaborasi antara penyelenggara Pemilu, akademisi, dan generasi muda dalam memperkuat kesadaran demokrasi serta pengawasan partisipatif di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kabupaten Bojonegoro menegaskan komitmennya untuk terus mendorong lahirnya pemilih muda yang cerdas, kritis, berintegritas, dan berani mengambil peran dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia.

Penulis dan Foto: Alfan

Editor: Humas Bawaslu Bojonegoro