Semangat Tak Boleh Padam di Masa Non-Tahapan: Zaenuri Ajak Jajaran Tetap Bergerak dalam Apel Pagi Penuh Makna
|
Bojonegoro, bojonegoro.bawaslu.go.id - Senin pagi yang cerah tak hanya menyinari halaman kantor, tetapi juga menyulut semangat para pegawai pengawas pemilu yang berdiri tegak mengikuti apel pagi rutin. Bagi sebagian orang, masa non-tahapan mungkin adalah jeda, saat roda kerja melambat dan rutinitas kembali ke pola administratif. Namun tidak demikian bagi H. Moch Zaenuri. Di hadapan jajaran sekretariat, pria yang dikenal tenang namun berprinsip itu menyampaikan pesan tegas semangat kerja tidak boleh padam, apalagi saat kita sedang menjaga kualitas data pemilih yang menjadi dasar legitimasi demokrasi.
Pagi itu, angin berembus lembut di halaman Kantor Bawaslu Kabupaten. Di bawah langit biru yang mulai menyala, barisan staf Bawaslu Bojonegoro berdiri dengan sikap tegap mengikuti apel yang rutin digelar. H. Moch Zaenuri, yang bertindak sebagai pembina apel, melangkah dengan tenang namun mantap. Wajahnya memancarkan keseriusan, namun tutur katanya tetap hangat dan membangkitkan semangat.
Dalam amanatnya, H. Moch Zaenuri mengawali dengan mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran yang tetap menunjukkan etos kerja tinggi meskipun saat ini tahapan pemilu belum dimulai. Menurutnya, masa non-tahapan bukan berarti masa istirahat total, tetapi justru menjadi kesempatan emas untuk melakukan konsolidasi, peningkatan kapasitas, serta kerja-kerja strategis pencegahan, terutama yang berkaitan dengan pengawasan daftar pemilih.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan semua, khususnya yang telah turun langsung ke Kecamatan, melakukan koordinasi dengan pihak Adminduk, dan mengajukan permintaan data terkait uji petik pengawasan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan atau PDPB. Itu adalah bentuk nyata komitmen kita menjaga kualitas demokrasi sejak dari hulunya,” ujar H. Moch Zaenuri dengan suara lantang.
H. Moch Zaenuri menyoroti pentingnya pengawasan terhadap PDPB sebagai kerja fundamental dalam memastikan hak pilih warga benar-benar terakomodasi. Menurutnya, sering kali persoalan daftar pemilih menjadi sumber konflik atau ketidakpercayaan publik dalam setiap proses pemilu. Karena itu, pengawasan terhadap proses pemutakhiran data pemilih bukan hanya menjadi tugas teknis, melainkan juga bentuk tanggung jawab moral lembaga pengawas terhadap integritas demokrasi.
Ia memuji inisiatif Koordinator Divisi Pencegahan dan staf teknis yang telah aktif melakukan koordinasi langsung ke kecamatan. Ia menyadari bahwa kerja tersebut tidak ringan. Mendatangi kantor kecamatan, berdialog dengan Adminduk, mencocokkan data, hingga memverifikasi nama demi nama—semua memerlukan ketekunan, kejelian, dan keteguhan.
“Saya tahu, turun ke kecamatan bukan perkara mudah. Kadang kita harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Tapi kerja-kerja itu tidak sia-sia. Justru di situlah kita sedang merajut fondasi keadilan pemilu dari lapisan paling bawah,” ungkapnya dengan ekspresi bangga.
H. Moch Zaenuri juga menyampaikan refleksi penting mengenai dinamika kerja di masa non-tahapan. Menurutnya, saat tidak ada kampanye, tidak ada pencalonan, dan belum ada jadwal resmi tahapan, justru potensi kelesuan kerja bisa muncul. Oleh karena itu, ia mengingatkan seluruh staf untuk tidak kehilangan semangat. Ia mendorong agar divisi-divisi tetap aktif menyusun strategi pencegahan, mengembangkan inovasi pengawasan partisipatif, serta memperkuat basis data pengawasan secara digital.
“Kerja pengawasan itu bukan hanya saat pemilu sudah dekat. Justru sekaranglah kita bisa bekerja lebih dalam, lebih teliti, tanpa tekanan waktu. Masa non-tahapan adalah masa emas untuk menyiapkan semua dengan lebih matang,” tambahnya dengan nada motivatif.
H. Moch Zaenuri pun mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan, komunikasi yang sehat antardivisi, dan kedisiplinan sebagai bagian dari integritas lembaga. Ia berharap agar seluruh jajaran tidak bekerja sekadar memenuhi target administratif, tetapi benar-benar bekerja dengan hati dan semangat menjaga amanah publik.
Menjelang akhir apel, suasana hening sejenak saat H. Moch Zaenuri mengucapkan kalimat yang penuh makna:
“Kita tidak sedang bekerja untuk nama pribadi, atau untuk pencitraan lembaga. Kita sedang menjaga suara rakyat agar tidak hilang, menjaga keadilan agar tidak dimanipulasi, dan menjaga demokrasi agar tetap hidup meski tidak sedang ramai.”
Apel pagi itu pun ditutup dengan doa dan salam hormat, namun semangat yang tertanam di benak peserta tidak berhenti di halaman kantor. Mereka kembali ke meja kerja masing-masing dengan langkah yang lebih ringan namun penuh tanggung jawab.
H. Moch Zaenuri, dengan gaya kepemimpinannya yang tenang tapi menginspirasi, berhasil menyulut bara semangat itu. Dan dari apel pagi sederhana itu, terbukti bahwa semangat pengawasan, bila dirawat dengan komitmen dan keikhlasan, tak akan pernah padam—meski tahapan pemilu belum dimulai.
Penulis dan Foto : Victor & Fitri
Editor : Humas Bawaslu Bojonegoro