Bawaslu Bojonegoro Berkontribusi Penulisan Buku Perempuan Mengawasi
|
Surabaya, bojonegoro.bawaslu.go.id. Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Jawa Timur selenggarakan Rapat Koordinasi Tim Penulis Buku “Perempuan Yang” Oleh Bawaslu Jatim yang bertempat di Kantor Bawaslu Jawa Timur Jl. Tanggulangin no. 3 Kota Surabaya. Jumat (24/01/2020).
Rapat Koordinasi (Rakor) ini bertujuan untuk mempersiapkan penulisan buku “Perempuan Yang” Oleh Bawaslu Jawa Timur. Adapun kegiatan ini dihadiri oleh Anggota Komisioner Perempuan Bawaslu Kabupaten/Kota dan 1 (satu) staf yang membidangi kehumasan. Diantara Kabupaten/Kota yang hadir yaitu ada Perempuan dari Bawaslu Kota Mojokerto, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Jember, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Sampang dan Bawaslu Kabupaten Tuban.
Sekira pukul 10.00 WIB kegiatan dimulai. Tampak hadir dari Bawaslu Provinsi Jawa Timur, Nur Elya Anggraini sebagai Narasumber dalam acara tersebut. Dalam kesempatan ini Koordinator Divisi Humas Dan Hubal ini mengungkapkan bahwa rencana tahun 2020 akan membuat 3 (tiga) buku. “Tahun ini Bawaslu Provinsi Jawa Timur merencanakan akan membuat 3 (tiga) buku yaitu Perempuan Yang, Insiklopedi ddan Kinerja Pengawasan” jelasnya.
Untuk buku Perempuan Yang sendiri Nur Elya Anggaini memberikan rancangan untuk dedline dalam penulisan. “Launcing 8 (Delapan) Maret yaitu bertepatan dengan hari perempuan Internasional, sehingga kepatuhan terhadap dedline itu harus diperhatikan, karena setelah adanya tulisan masuk itu ada proses editing, lagout, proses meminta ISBN yg memakan waktu dan ada proses cetak juga” ungkapnya.
Suasana Rapat Koordinasi Tim Penulis Buku "Perempuan Yang" Oleh Bawaslu Jatim
Lanjut Nur Elya Anggraini mengungkapkan untuk masalah penulisan terserah dari penulis masing-masing “Jadi yang tahu persis apa yg perlu dikedepankan dan apa yang perlu diceritakan terlebih dahulu monggo terserah teman-teman semua. Sedangkan untuk gaya penulisan itu juga terserah teman-teman, ada yang mungkin tulisannya cenderung seperti menulis di jurnal, seperti esai bebas, dengan gaya peliputan, dengan gaya fices, itu monggo. Stile penulisan itu soal kebiasaan kita, cara kita menulis dan itu tidak menjadi suatu hal yang baku bagaimana kita harus menulis itu. Bisa dimulai dengan kutipan itu tidak masalah monggo-monggo saja. Yang penting garis besar apa yang kita suarakan itu tampak dan ada” jelasnya dihadapan perempuan-perempuan Bawaslu Kabupaten/Kota yang hadir.
Perempuan yang pernah menjadi penyiar radio itupun juga menambahkan cara menghadapi narasumber yang jawabannya singkat “Untuk mengantisipasi narasumber yang pelit, kadang jawabannya cuma iya atau tidak saja itu tergantung kreatifitas kita dalam menggiringnya. Seperti di jurnalistik itu ada panduan, kalau bertanya itu jangan dengan pertanyaan tertutup tapi dengan pertanyaan terbuka, sehingga narasumber itu bisa mengeskplorasi jawabannya”imbuhnya.
“Oke itu ya, jadi Minggu depan kalau sudah selesai tulisannya lebih bagus, bisa kita editing bareng-bareng” harapnya sembari menutup kegiatan tersebut.